Rabu, 27 Februari 2013 : Minggu Kedua Prapaskah (Renungan Kitab Suci)

Hari ini kita mendengarkan lagi tentang pentingnya kerendahan hati, dan kerendahan hati yang memang bukan merupakan simbol penghinaan dan kelemahan, melainkan, simbol kekuatan diri dan kebenaran di hadapan Allah. Kami juga mendengarkan pad hari ini bahwa sebagai orang-orang yang setia kepada Tuhan dan pesan-Nya, hidup ini tidak akan mudah bagi kebanyakan daripada kita, karena dunia ini yang membenci Kristus dan kebenaran-Nya, dan juga iblis yang membenci-Nya, pasti akan juga membenci kita semua yang percaya kepada-Nya.

Kemudian, melalui kerendahan hati, kita juga mempelajari nilai-nilai pelayanan, untuk melayani satu sama lain, mengikuti teladan Kristus yang memimpin dengan contoh, contoh dari kehidupan-Nya sendiri, yang berakhir dengan pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yaitu pelayanan utama-Nya kepada semua kita. Dia mengajarkan kita bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, kita harus mengutamakan pemberian pelayanan kepada orang lain, dan juga bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipercayakan kepada kita. Demikianlah Kristus sebagai Gembala yang Baik menunjukkan teladan-Nya kepada kita, sebagai gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Demikian juga seorang pemimpin harus menghilangkan perasaan egoisnya, dan berusaha untuk bekerja untuk kebaikan dan kemakmuran rakyat yang dipimpinnya.

Memang sulit untuk berbuat baik, untuk melakukan tindakan amal dan penuh kasih di dunia ini, karena akan ada banyak orang yang tidak akan senang melihat tindakan seperti itu, dan akan ada juga banyak orang yang menentang TUHAN dan jalan-Nya dan Firman-Nya. Tetapi kita harus tetap berjuang untuk melakukannya, demi kebaikan orang-orang di sekitar kita, dan bagi dunia itu sendiri, bahkan jika dunia membenci kita sedemikian rupa.

Hari ini, dalam sambutannya pada Audiensi Umum terakhir dengan umat-umat Gereja, Bapa Paus kita tercinta, Paus Benediktus XVI telah disebutkan bahwa meskipun ia tidak akan lagi menjadi Paus, dia tidak akan pernah meninggalkan Gereja, melainkan ia akan terus melanjutkan perjuangan dalam kehidupan penuh doa dan oleh karena itu, seperti yang kita semua harus tahu, ia tetap memimpin kita dalam peperangan rohani melawan si jahat dan cara-cara jahatnya, melalui doa.

Karena sesungguhnya, seorang Paus yang berdoa walaupun telah pensiun, akan lebih kuat daripada bahkan ketika ia masih aktif sebagai Paus dan pemimpin Gereja kita. Paus kita juga, meniru Kristus, dalam kerendahan hatinya yang besar, telah memutuskan untuk mundur, dan oleh karena itu memungkinkan orang lain yang lebih mampu untuk melanjutkan pekerjaan baik yang telah ia mulai untuk kebaikan semua orang, khususnya umat beriman dalam Kristus.

Bapa Paus menyebutkan bahwa meskipun ia mengundurkan diri dari salib yang ia telah dilakukan sebagai pemimpin kami, ia tetap berada di kaki salib dalam doa, untuk mendukung Paus baru yang akan menanggung salib Kristus berikutnya, bersama-sama dengan semua orang beriman. Ini adalah simbol sebuah kerendahan hati yang besar, yang dapat kita contoh dan ikuti. Ingatlah juga, Kristus yang Ilahi, TUHAN yang berkuasa, tetapi bersedia merendahkan diri-Nya sendiri sehingga Ia rela mati di kayu salib yang memalukan, namun simbol rasa malu ini melalui pengorbanan-Nya diubah menjadi salib kemenangan. Kita semua sekalian, yang menanggung salib kita sendiri bersama dengan TUHAN, karena itu pun harus mengikuti jejak TUHAN kita, untuk membawa salib kita dalam kerendahan hati, agar beban salib kita pun akan berubah juga menjadi salib kemenangan Kristus.

Tapi, kita tidak berjuang dalam hal ini sendiri, karena Allah pun berjalan bersama kita, Ia yang telah menderita melalui ejekan, penghinaan, dan kematian bagi kita. Dan ingat juga bahwa kita semua, saudara dan saudari dalam Kristus, meniti perjalanan iman ini bersama-sama, menuju TUHAN. Jalan ini tidak akan mudah, dan banyak tantangan yang akan menanti kita, tetapi jika kita tetap setia dalam Kristus, dan percaya kepada satu sama lain, dan yang paling penting membantu satu sama lain dalam perjalanan kita, dan menjaga cinta di pusat keberadaan kita, kita akan menang. TUHANpun tidak akan menang, jikalau tanpa kasih-Nya yang agung, karena kasih-Nya yang tak terbatas bagi kita semua, bersedia untuk melanjutkan, bantalan berat dari semua dosa-dosa kita, melalui penderitaan dan cobaan, dan melalui kutukan dan cela, menuju Kalvari, dan dari sana menuju keselamatan seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, saudara dan saudari terkasih dalam Kristus, hari ini, marilah kita berdoa untuk diri kita sendiri, saling mendoakan, dan juga berdoa untuk Bapa Paus kita, yang bersama-sama, meskipun semua penderitaan dan rintangan diletakkan di jalan kita menuju Tuhan, bahwa kita bisa hidup bersama, berjalan bersama-sama, saling membantu, dan saling bahu-membahu salib-salib kita masing-masing, bahwa ketika saatnya tiba, beban dan rasa malu kita akan berubah dengan yang salib kemenangan Kristus, simbol keselamatan.

Mari kita juga berdoa bahwa kita semua akan dapat memulai misi untuk menjangkau orang lain di sekitar kita, untuk meringankan penderitaan dari semua, dan untuk menunjukkan kasih kepada semua orang yang kita jumpai, bahkan bagi mereka yang membenci kita dan mengharapkan kebinasaan dan kehancuran kita.

Semoga TUHAN memberkati kita semua, memberkati Gereja Kudus-Nya, dan juga memberkati Bapa Paus kita, Benediktus XVI. Amin!

Rabu, 27 Februari 2013 : Minggu Kedua Prapaskah (Bacaan Injil)

Matius 20 : 17-28

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan : “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus : “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya : “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya : “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya : “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka : “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata : “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.”

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Kamis, 14 Februari 2013 : Kamis setelah Rabu Abu (Renungan Kitab Suci)

Saudara saudari yang terkasih dalam Kristus, untuk mengikuti Yesus Kristus, TUHAN kita, tidaklah mudah, karena jikalau kita mengikuti Dia, kita pun juga harus melalui cobaan dan kesusahan, dan melalui berbagai penghadang, seperti layaknya Kristus sendiri telah menghadapi cobaan besar ini, dan akhirnya disalibkan di atas bukit Kalvari demi keselamatan kita semua. Kristus mengharapkan agar kita semua sekarang juga membawa salib kita sendiri bersama Dia, dan menghadapi segala cobaan, penderitaan, dan hambatan yang menghadapi TUHAN dan umatNya, yang berusaha untuk menghambat misi Kristus yang agung, untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari belenggu iblis dan dosa.

Marilah kita semua tetap pada jalan yang lurus menuju TUHAN, dengan dipimpin oleh Kristus. Marilah memusatkan perhatian dan hati kita kepada TUHAN dan mengarahkan hati kita semua kepada-Nya selalu. Hidup kita di dunia ini sungguhlah pendek dan hanya sementara. Tapi walaupun hidup kita hanyalah pendek dalam dunia ini, apapun yang kita lakukan dalam hidup ini sangatlah penting, karena tanpa melakukan hal-hal yang membuat hati kita tetap bertumpu dan terarah pada TUHAN, pada akhir hidup kita, kita tidak akan dapat mencapai TUHAN yang mengasihi kita semua.

Kristus telah membuat perjalanan kita kembali kepada TUHAN menjadi suatu kemungkinan. Melalui kematianNya dan kebangkitanNya, jembatan agung telah muncul untuk menyeberangi jurang yang berada di antara kita dan Bapa kita di surga. Inilah mengapa Kristus mesti menderita dan mengalami penolakan dan akhirnya mati di salib, karena tanpa korban Kristus, Ia yang merupakan Imam Agung kita, dan yang mengantarai kita semua dan TUHAN, kita tidak akan mampu bersatu kembali dengan TUHAN, karena jurang yang tak terseberangi  berada di antara kita dan Dia. Hanya Kristus, Anak Domba Allah, yang berhak menjadi jembatan di antara kita dan Bapa di surga.

Tidak ada cinta kasih yang lebih besar daripada orang yang memberikan hidupnya dan nyawanya kepada teman-temannya. Inilah yang telah dilakukan Kristus kepada kita semua, karena kita semua adalah saudara-saudari Kristus, dan bukanlah hanya sahabatNya. Dia begitu mengasihi kita semua bahwa Dia rela untuk menghadapi segala penderitaan dalam perjalanan ke Kalvari, dan dalam kesetiaan penuh kepada BapaNya di surga, dan untuk mati di Kalvari untuk membebaskan kita semua dari iblis yang jahat dan belenggu dosa. Maka itu iblis membenci Kristus, dan juga kita semua yang telah diselamatkan Kristus melalui Darahnya yang Mulia.

Iblis mempunyai banyak kemampuan untuk menjauhkan kita dari jalan yang benar menuju TUHAN. Cobaan dunia ini adalah senjata ampuh yang dipunyai Iblis untik menghadapi kita. Berhala-berhala baru banyak muncul di dunia kita sekarang ini, contohnya adalah uang, kenikmati duniawi, bujukan komersil dan kemakmuran, dan banyak lagi yang lain. Seperti yang diucapkan oleh Nabi Musa dalam bacaan pertama kita hari ini, kita memang memiliki pilihan, yaitu menerima bujukan dan rayuan duniawi ini, menyembah berhala-berhala ini dan memalingkan hati kita dari TUHAN, atau menolak segala bujukrayu duniawi ini, dan memusatkan diri kita semua benar-benar menuju TUHAN yang mengasihi kita.

Jalan ini tidaklah mudah, sebab dunia ini, yang dipenuhi kejahatan Iblis, membenci TUHAN, dan maka itu juga akan melakukan berbagai hal yang ia mampu untuk menghadang jalan kita menuju Dia. Penderitaan dan halangan ini tidak hanya berupa penderitaan jasmani, tapi juga merupakan penderitaan rohani dan ragawi. Tetapi, semua hal ini tidaklah semestinya menjadikan kita untuk membenci dunia ini, atau menjauhkan diri kita darinya. Semestinya, kita justru semestinya menerima segala hambatan dan cobaan, dan penderitaan tersebut, dan menjadikan semuanya menjadi sukacita, karena kita tahu bahwa walaupun cobaan dan apapun yang ada yang menghalangi kita, TUHAN senantiasa bersama kita dan berjalan bersama kita semua. Jika kita semua tetap setia kepada-Nya, kita pun akan Ia hargai dengan kasihNya dan tempat dalam KerajaanNya, di mana kita telah disediakan tempat olehNya.

Tetapi, janganlah mendatangi TUHAN dengan tangan yang kosong, karena di dunia kita ini, masih banyak yang berada dalam kegelapan dan belum memulai perjalanan mereka menuju TUHAN, yang hilang dalam kegelapan, dan bahkan yang membenci dan menghujat Dia, yang dimanfaatkan oleh Iblis untuk melawan TUHAN dan kita, para hamba TUHAN. Marilah kita ulurkan tangan kita dan mencapai mereka, dan semoga, dengan berkat Kristus, kita dapat mencapai kembali para saudara-saudari kita yang berada dalam kegelapan. Ingatlah, bahwa Kristus telah datang untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, termasuk mereka yang telah menolakNya dan menyalibkan Dia. Kristus mengampuni mereka, dan selama mereka dapat memalingkan hati mereka kembali kepada TUHAN, mereka semua pun berhak atas kehidupan kekal bersama kita semua.

Dan maka itu, marilah kita semua merendahkan hati kita, dan mengikuti jejak Kristus yang telah mati demi menyelamatkan kita dari kematian kita masing-masing. Pada masa Prapaskah ini, marilah menjadikan masa ini sebagai masa yang bermakna dan yang menjadikan iman kita kepada TUHAN semakin kokoh, dan juga bagi iman saudara-saudari kita di sekeliling kita. Marilah kita semua memilih jalan menuju TUHAN, dan menjadikan diri kita penuh dengan cintaNya dan menyucikan diri kita, sehingga kita semua, setelah masa Prapaskah ini selesai, dapat tumbuh dalam iman, harapan, dan kasih, terutama dalam Tahun Iman yang agung ini. Amin.