Kamis, 28 Februari 2013 : Minggu Kedua Prapaskah (Renungan Kitab Suci)

Kita telah mendengarkan pada hari ini, kisah Lazarus yang miskin dan orang yang kaya. Orang yang telah menderita dalam hidup ini, akan menerima pahala di akhirat, sementara orang kaya yang menikmati di dunia ini, akan menderita secara menyedihkan di neraka. Tetapi janganlah salah paham, karena TUHAN tidak membenci orang kaya, dan tidak benar kalau kita menyebut bahwa Dia membenci orang-orang yang memiliki kelebihan sesuatu. Ini juga tidak berarti bahwa jika kita miskin maka kita akan dijamin dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Memang, bahwa yang penting adalah keadaan jiwa kita, dan bagaimana hidup kita selaras dengan Allah di dalam hati kita. Kekayaan dan properti dapat menjadi penghalang di jalan kita kepada Allah, tetapi mereka juga dapat menjadi aset yang membantu kita dalam jalan kita. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya, dan kepada siapa kita bergantung dan bertumpu. Kita memiliki pilihan, baik untuk menempatkan kepercayaan kita kepada TUHAN yang kekal dan Allah kita, dan dalam kasih-Nya, atau untuk menempatkan kepercayaan kita manusia fana dan kekayaan duniawi.

Kekayaan tetap berguna, karena memang, kita tidak bisa hidup di dunia ini hari ini tanpa uang sama sekali. Uang membuat dunia ini tetap berjalan, dan memungkinkan banyak hal yang harus dilakukan oleh kita untuk hidup. Tapi, seperti yang kita lihat pada orang banyak saat ini, banyak yang terjerat dan terjebak dalam kerakusan dan pencarian yang sia-sia untuk kekayaan, harta, kemewahan, dan menginginkan lebih banyak lg dari semua yang telah disebut, bahwa mereka hanya dapat berpikir ke depan dan memusatkan perhatian untuk mencari cara terbaik untuk mendapatkan ini, dan membenamkan diri begitu penuh dalam karir mereka dan pekerjaan, sehingga mereka bisa mendapatkan semua ini. Ini adalah contoh jenis-jenis kerusakan dan kehancuran jiwa kita dan diri kita, dan bahwa semua adalah akibat materialisme dan komersialisme di dunia kita telah membawa kita ke dalam jurang kehancuran dan dosa.

Sama seperti dalam bacaan pertama, dalam apa yang TUHAN berkata kepada nabi Yeremia, bahwa orang-orang yang menempatkan kepercayaan mereka pada hal-hal yang fana dan tidak kekal akan dikutuk dan ditolak seperti orang kaya dalam cerita Lazarus. Anda dapat berpesta sesuka yang Anda inginkan sepanjang hari, dan memiliki kehidupan yang sangat menyenangkan di dunia ini, tetapi dalam banyak kasus, karena kesenangan tersebut, kenikmatan, dan pemuasan diri kita, kita menjadi buta terhadap orang-orang di sekitar kita, kita menjadi buta terhadap kondisi dunia di luar hidup kita yang aman dan tentram, dan kita mengabaikan jeritan orang miskin dan kurang beruntung yang memohon untuk bantuan kita.

Kita tidak perlu memberikan semua kekayaan kita dan harta kepada orang miskin. Kita tidak perlu menjual rumah kita dan hidup miskin seperti mereka, ataupun menjauhkan diri dari segala macam kepemilikan. Karena yang terpenting adalah kita semua siap untuk mendengar. Sama seperti Abraham berkata kepada orang kaya di neraka, bahwa adalah baik untuk mendengarkan, untuk mendengarkan ajaran Allah melalui Hukum dan para nabi, dan mendengarkan firman Allah, yang hari ini kita baca dan dengarkan dalam pembacaan Injil TUHAN. Tetapi untuk mendengarkan juga mempertajam pikiran dan indra kita, membuka mata dan telinga untuk melihat dan mendengar nasib saudara-saudari yang kurang beruntung di sekitar kita.

Bahwa di luar semua pesta dan gegap kegembiraan, kebahagiaan hidup, dan lainnya, ada cara untuk mencapai kebahagiaan sejati. Sebab, kebahagiaan yang dibangun pada materi, harta benda, dan semua hal fana akhirnya akan hilang dan lenyap, dan meskipun itu adalah suatu kebahagiaan, tetapi itu bukanlah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati adalah mengikuti apa yang telah terus-menerus diajarkan TUHAN kita melalui Kristus, untuk mengikuti perintah-perintah kasih-Nya.

Untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri, dan untuk mengasihi Allah kita dengan segala kekuatan kita, dan dengan segenap hati, jiwa, dan kemampuan kita. Dengan demikian, kita akan mendapatkan kepuasan sejati, dan dengan pengetahuan bahwa Allah mengasihi apa yang kita lakukan, jika kita melakukannya, kita dapat yakin bahwa kita tidak akan menderita seperti orang kaya itu di api neraka. Karena orang kaya itu memiliki banyak kesempatan dalam hidup untuk membantu Lazarus dalam hidup, yang selalu hadir di pintu gerbang, dan karena pastilah ia sudah dikenal oleh orang kaya. tersebut Namun, bukannya memberinya bantuan, orang kaya itu pun tidak pernah mengangkat jarinya untuk membantu dan meninggalkan dia untuk kematiannya yang tragis.

Memang, sekali lagi kita mendengar tentang dosa kelalaian, yaitu, gagal untuk melakukan apa yang kita lakukan, dan gagal untuk melakukan apa yang baik, ketika kita mampu. Karena dosa bukanlah dengan hanya melakukan apa yang buruk dan jahat di mata TUHAN, tapi kita juga telah berbuat dosa, jika kita benar-benar mampu melakukan yang baik, dan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengurangi penderitaan orang lain dengan berbagi apa yang baik kita miliki, tetapi telah memilih untuk mengabaikan, dan tidak menggunakan apa yang kita miliki, kesempatan yang kita miliki. Hal tersebut adalah dosa kelalaian, seperti yang telah dilakukan sang orang kaya, di samping apa pun hal-hal buruk yang mungkin dilakukan dalam hidupnya, yang membuatnya layak mendapat hukuman kekali di neraka.

Bahwa di neraka, penderitaan yang diderita orang kaya sebenarnya bukan penderitaan fisik dan siksaan fisik berupa api yang panas, seperti apa yang banyak akan berpikir dan digambarkan sebagai pembakaran neraka. Sebaliknya, Neraka adalah pemisahan utama antara Allah dan manusia, di mana manusia tidak memiliki lagi harapan hidup yang kekal, tetapi kematian kekal dan pemisahan dari TUHAN yang adalah segalanya. Karena Allah mencakup segala sesuatu dan mengasihi semua ciptaan-Nya, bahwa jika kita menjauh daripada-Nya, kita pun tidaklah lagi berhak untuk hidup, namun berhak untuk dihukum di neraka kekal bersama Iblis dan malaikat-malaikatnya.

Neraka adalah ketika kita telah benar-benar menolak Allah, dan telah menjauhkan diri dan hati kita sepenuhnya dari-Nya, dan kasih-Nya yang agung dan ilahi telah kita tolak. Penderitaan orang kaya adalah penderitaan jiwa, api dalam jiwa, yang merupakan api yang melambangkan hilangnya kasih Allah, yang membakar orang tersebut sehingga sangat bahwa mereka menderita. Bayangkan sebuah dunia di mana Anda tidak bisa menjangkau TUHAN, dan di mana Anda tidak memiliki harapan untuk lolos dan melarikan diri, dan pada saat anda jatuh ke tempat itu sudah terlalu terlambat bagi Anda untuk meminta TUHAN untuk pengampunan, sebab kita sendiri telah menolak Dia. Itu adalah gambaran neraka yang sebenarnya.

Kita mempunyai kesempatan istimewa pada hari ini untuk mendengarkan Firman TUHAN melalui Kitab Suci, sama seperti orang kaya yang memiliki kesempatan untuk mendengarkan Musa melalui Hukum Taurat Allah, dan para nabi-nabi. Oleh karena itu, saudara dan saudari dalam Kristus, sekarang terserah kepada kita semua untuk memilih, apakah kita ingin mendengarkan Firman TUHAN, dan mulai mengubah cara hidup kita dan kehidupan kita, bahwa kita bisa hidup dalam kasih dan cinta, atau menolak Firman-Nya dan terus bersenang-senang dalam hidup kita yang menyenangkan, tetapi yang bukan merupakan kebahagiaan sejati.

Marilah kita berdoa bagi satu sama lain bahwa kita semua akan tumbuh semakin kuat dalam iman, harapan, dan cinta. Bahwa kita dapat melakukan semua yang bisa kita lakukan dengan cara kita sendiri, tindakan amal dan perbuatan kasih, untuk membantu mereka yang kurang beruntung di sekitar kita, dan tidak terbatas hanya itu, tetapi juga untuk menghibur sedih dan untuk yang kesepian, dan banyak orang lain yang dapat kita bantu melalui kerja kita semua, dan kita memiliki potensi besar yang dapat dilakukan untuk kemuliaan Allah. Marilah kita berdoa bagi Gereja kita, yang dapat terus melakukan tindakan yang amal yang banyak, dan agar kita semua juga dapat berpartisipasi dalam, untuk kebaikan saudara-saudara kita di seluruh dunia, yang menderita kelaparan, ketidakadilan, prasangka, dan bahkan penganiayaan. Semoga TUHAN memberkati kita semua, selalu. Amin.

Kamis, 28 Februari 2013 : Minggu Kedua Prapaskah (Bacaan Injil)

Lukas 16 : 19-31

Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.

Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

Lalu ia berseru, katanya : “Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.” Tetapi Abraham berkata : “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”

“Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.” Kata orang itu : “Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.”

Tetapi kata Abraham : “Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.” Jawab orang itu : “Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.”

Kata Abraham kepadanya : “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Kamis, 28 Februari 2013 : Minggu Kedua Prapaskah (Mazmur)

Mazmur 1 : 1-2, 3, 4 dan 6

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Bukan demikian orang fasik : mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Kamis, 28 Februari 2013 : Minggu Kedua Prapaskah (Bacaan Pertama)

Yeremia 17 : 5-10

Beginilah firman TUHAN : “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.”

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu : siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

Rabu, 27 Februari 2013 : Minggu Kedua Prapaskah (Renungan Kitab Suci)

Hari ini kita mendengarkan lagi tentang pentingnya kerendahan hati, dan kerendahan hati yang memang bukan merupakan simbol penghinaan dan kelemahan, melainkan, simbol kekuatan diri dan kebenaran di hadapan Allah. Kami juga mendengarkan pad hari ini bahwa sebagai orang-orang yang setia kepada Tuhan dan pesan-Nya, hidup ini tidak akan mudah bagi kebanyakan daripada kita, karena dunia ini yang membenci Kristus dan kebenaran-Nya, dan juga iblis yang membenci-Nya, pasti akan juga membenci kita semua yang percaya kepada-Nya.

Kemudian, melalui kerendahan hati, kita juga mempelajari nilai-nilai pelayanan, untuk melayani satu sama lain, mengikuti teladan Kristus yang memimpin dengan contoh, contoh dari kehidupan-Nya sendiri, yang berakhir dengan pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yaitu pelayanan utama-Nya kepada semua kita. Dia mengajarkan kita bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, kita harus mengutamakan pemberian pelayanan kepada orang lain, dan juga bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipercayakan kepada kita. Demikianlah Kristus sebagai Gembala yang Baik menunjukkan teladan-Nya kepada kita, sebagai gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Demikian juga seorang pemimpin harus menghilangkan perasaan egoisnya, dan berusaha untuk bekerja untuk kebaikan dan kemakmuran rakyat yang dipimpinnya.

Memang sulit untuk berbuat baik, untuk melakukan tindakan amal dan penuh kasih di dunia ini, karena akan ada banyak orang yang tidak akan senang melihat tindakan seperti itu, dan akan ada juga banyak orang yang menentang TUHAN dan jalan-Nya dan Firman-Nya. Tetapi kita harus tetap berjuang untuk melakukannya, demi kebaikan orang-orang di sekitar kita, dan bagi dunia itu sendiri, bahkan jika dunia membenci kita sedemikian rupa.

Hari ini, dalam sambutannya pada Audiensi Umum terakhir dengan umat-umat Gereja, Bapa Paus kita tercinta, Paus Benediktus XVI telah disebutkan bahwa meskipun ia tidak akan lagi menjadi Paus, dia tidak akan pernah meninggalkan Gereja, melainkan ia akan terus melanjutkan perjuangan dalam kehidupan penuh doa dan oleh karena itu, seperti yang kita semua harus tahu, ia tetap memimpin kita dalam peperangan rohani melawan si jahat dan cara-cara jahatnya, melalui doa.

Karena sesungguhnya, seorang Paus yang berdoa walaupun telah pensiun, akan lebih kuat daripada bahkan ketika ia masih aktif sebagai Paus dan pemimpin Gereja kita. Paus kita juga, meniru Kristus, dalam kerendahan hatinya yang besar, telah memutuskan untuk mundur, dan oleh karena itu memungkinkan orang lain yang lebih mampu untuk melanjutkan pekerjaan baik yang telah ia mulai untuk kebaikan semua orang, khususnya umat beriman dalam Kristus.

Bapa Paus menyebutkan bahwa meskipun ia mengundurkan diri dari salib yang ia telah dilakukan sebagai pemimpin kami, ia tetap berada di kaki salib dalam doa, untuk mendukung Paus baru yang akan menanggung salib Kristus berikutnya, bersama-sama dengan semua orang beriman. Ini adalah simbol sebuah kerendahan hati yang besar, yang dapat kita contoh dan ikuti. Ingatlah juga, Kristus yang Ilahi, TUHAN yang berkuasa, tetapi bersedia merendahkan diri-Nya sendiri sehingga Ia rela mati di kayu salib yang memalukan, namun simbol rasa malu ini melalui pengorbanan-Nya diubah menjadi salib kemenangan. Kita semua sekalian, yang menanggung salib kita sendiri bersama dengan TUHAN, karena itu pun harus mengikuti jejak TUHAN kita, untuk membawa salib kita dalam kerendahan hati, agar beban salib kita pun akan berubah juga menjadi salib kemenangan Kristus.

Tapi, kita tidak berjuang dalam hal ini sendiri, karena Allah pun berjalan bersama kita, Ia yang telah menderita melalui ejekan, penghinaan, dan kematian bagi kita. Dan ingat juga bahwa kita semua, saudara dan saudari dalam Kristus, meniti perjalanan iman ini bersama-sama, menuju TUHAN. Jalan ini tidak akan mudah, dan banyak tantangan yang akan menanti kita, tetapi jika kita tetap setia dalam Kristus, dan percaya kepada satu sama lain, dan yang paling penting membantu satu sama lain dalam perjalanan kita, dan menjaga cinta di pusat keberadaan kita, kita akan menang. TUHANpun tidak akan menang, jikalau tanpa kasih-Nya yang agung, karena kasih-Nya yang tak terbatas bagi kita semua, bersedia untuk melanjutkan, bantalan berat dari semua dosa-dosa kita, melalui penderitaan dan cobaan, dan melalui kutukan dan cela, menuju Kalvari, dan dari sana menuju keselamatan seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, saudara dan saudari terkasih dalam Kristus, hari ini, marilah kita berdoa untuk diri kita sendiri, saling mendoakan, dan juga berdoa untuk Bapa Paus kita, yang bersama-sama, meskipun semua penderitaan dan rintangan diletakkan di jalan kita menuju Tuhan, bahwa kita bisa hidup bersama, berjalan bersama-sama, saling membantu, dan saling bahu-membahu salib-salib kita masing-masing, bahwa ketika saatnya tiba, beban dan rasa malu kita akan berubah dengan yang salib kemenangan Kristus, simbol keselamatan.

Mari kita juga berdoa bahwa kita semua akan dapat memulai misi untuk menjangkau orang lain di sekitar kita, untuk meringankan penderitaan dari semua, dan untuk menunjukkan kasih kepada semua orang yang kita jumpai, bahkan bagi mereka yang membenci kita dan mengharapkan kebinasaan dan kehancuran kita.

Semoga TUHAN memberkati kita semua, memberkati Gereja Kudus-Nya, dan juga memberkati Bapa Paus kita, Benediktus XVI. Amin!

Rabu, 27 Februari 2013 : Minggu Kedua Prapaskah (Mazmur)

Mazmur 30 : 5-6, 14, 15-16

Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.

Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, – ada kegentaran dari segala pihak! – mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.

Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata : “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!

Rabu, 27 Februari 2013 : Minggu Kedua Prapaskah (Bacaan Pertama)

Yeremia 18 : 18-20

Berkatalah mereka : “Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!”

Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku! Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka.